Welcome To Our Magazine Website

Prinsip, Elemen, dan Gaya Desain

Rangkuman ini berisi pengetahuan formal yang tepat untuk mahasiswa yang mempelajari desain interior. Membaca rangkuman ini akan memberikan pemahaman lebih mendalam dan mempersiapkan diri Anda untuk benar-benar memasuki dunia desain interior.

Prinsip-prinsip Desain

  • Prinsip-prinsip desain adalah konsep abstrak yang meliputi teori, aturan, dan pengaturan ide yang menentukan kesuksesan sebuah desain. Setiap elemen dalam sebuah desain dapat dievaluasi berdasarkan prinsip-prinsip berikut ini:
  • Ukuran keseluruhan, seperti luas-sempitnya sebuah ruangan, objek, atau motif.
  • Hubungan ukuran atau rasio dari bagian kecil ke keseluruhan, seperti ukuran kursi secara menyeluruh dan ukuran lengannya.
  • Keseimbangan didapatkan dengan mengatur komponen secara simetris, asimetris, atau radial.
  • Aliran dari elemen-elemen, biasanya diatur sesuai dengan sebuah skema seperti repetisi atau alternasi, progresi atau gradasi, transisi, oposisi atau kontras, dan radiasi.
  • Peningkatan yang menghasilkan ketertarikan atau titik fokus dalam sebuah desain.
  • Kesesuaian elemen-elemen untuk menciptakan keseluruhan yang menyenangkan, dicapai melalui kesatuan dan keragaman.

Skala

  • Skala berkenaan dengan ukuran aktual dan relatif dan berat visual.
  • Skala secara umum dikategorikan menjadi kecil atau ringan, medium, besar atau berat, atau grand (sangat besar).
  • Meskipun dimensi sesungguhnya dari dua objek bisa sama, salah satunya bisa memiliki skala visual yang lebih berat dari yang satunya karena berat atau massanya dan pemilihan material. Contohnya, meja kaca dengan kaki akan terlihat lebih kecil skalanya dibandingkan dengan chest table dari kayu solid.
  • Motif dan ornamen juga menentukan skala secara visual. Motif besar-besar akan terlihat berat atau penuh, sementara motif dengan dimensi yang hampir sama berisi motif kecil-kecil dan area kosong akan terlihat lebih kecil skalanya secara menyeluruh.
  • Begitu pula warna juga akan mempengaruhi kesan dari skala. Warna yang terang dan tegas akan terlihat lebih luas dibandingkan dengan warna pastel.
  • Elemen desain adalah komponen yang konkret dan dapat diukur dari semua desain. Mereka mewujudkan prinsip desain dan mengubah teori menjadi realita.
  1. Ruang. Area terbuka dan tertutup; ruang bisa jadi positif (terisi) atau negative (terbuka).
  2. Rupa. Outline dua dimensi sering dilihat sebagai bentuk geometris seperti kotak atau segitiga.
  3. Bentuk. Bentuk tiga dimensi, seperti kubus, kerucut, atau bola.
  4. Massa. Berat, masa jenis, atau kepadatan relatif dari sebuah bentuk; masa bisa jadi aktual atau visual.
  5. Garis. Hubungan antara dua titik; garis bisa berbentuk vertikal, horizontal, angular, atau melengkung.
  6. Tekstur. Kehalusan atau kekasaran dari sebuah permukaan; tekstur bisa dibaca secara visual atau melalui sentuhan.
  7. Motif. Penataan motif dalam urutan berulang atau bervaiasi; motif kecil mungkin terlihat seperti tekstur.
  8. Pencahayaan. Natural, artificial, atau kombinasi keduanya; pencahayaan mempengaruh penampilan dari elemen-elemen desain lainnya.
  9. Warna. Warna yang beragam dari terang ke gelap dan dari tajam ke pudar dan bisa dicampur satu sama lain di dalam skema warna; warna adalah element desain yang paling personal dan emosional.

Proporsi

  • Ditunjukkan dalam hubungan ukuran dari bagian-bagian, satu ke yang lainnya, ke keseluruhan.
  • Juga berkenaan dengan rupa dan bentuk dan dimensinya. Ini, sebagai contoh, hubungan punggung kursi dengan dasarnya atau lengannya atau yang seukuran dan skala bagian atas meja dengan kaki-kakinya.
  • Orang Mesir kuno menyatakan proporsi terbaik adalah “golden.Golden mean adalah garis yang secara visual membagi sebuah objek, dinding, bagian belakang korden, atau perabot lainnya ke dalam dua bagian yang tidak sama namun sesuai.
  • Golden section mengacu pada proporsi bagian-bagian ke satu sama lainnya dan ke keseluruhan.
  • Intinya adalah “rasa benar” yang kita rasakan ketika proporsi yang bagus terbukti.

Keseimbangan

  • Keseimbangan adalah equilibrium, atau pengaturan objek secara fisik atau visual untuk mencapai kestabilan dan keseimbangan.
  • Ada tiga cara untuk mencapai equilibrium:

1. Keseimbangan Simetris

Keseimbangan simetris menciptakan menciptakan gambaran cermin dengan meletakkan barang-barang yang benar-benar serupa di kedua sisi titik pusat. Misalnya, sebuah meja makan formal di mana kursi diletakkan persis berseberangan satu sama lain. Karena itu merupakan sifat yang tidak tergantikan, keseimbangan simetris bisa menjadi tidak menarik dan membosankan.

2. Keseimbangan Asimetris

Keseimbangan asimetris bisa didapatkan dengan dua cara:

  • Objek yang berbeda bisa ditempatkan pada jarang yang beragam, dari titik pusat.
  • Objek dengan berat atau bentuk visual yang sama bisa diseimbangkan pada jarak yang sama dari garis pusat pembagi imajiner.

Dibutuhkan menemukan objek yang sesuai namun cukup beragam supaya menarik dan kemudian mengatur objeknya, menilai pengaturannya, dan sering mengatur ulang terus-menerus sampai rasa seimbang dirasa benar.

3. Keseimbangan Radial

Keseimbangan radial adalah keadaan seimbang berdasarkan lingkaran. Seperti terlihat pada kursi-kursi yang mengelilingi sebuah meja bulat.

Ritme

  • Membawa mata sepanjang jalan setapak yang ditentukan oleh elemen-elemen yang mengilustrasikannya. Ada lima macam tipe ritme:

1. Repetisi dan alternasi

Repetisi menghasilkan kesatuan, atau kesamaan, yang merupakan bagian dari prinsip keharmonisan. Repetisi dapat dilihat pada barisan kursi di dalam gereja atau bioskop, dan di rangkaian buku yang diatur supaya sesuai.

Alternasi adalah rangkaian dari dua atau lebih komponen di mana mata dapat mengikuti motif ritmis.

2. Progresi atau gradasi

Progresi atau gradasi dapat dilihat pada progres bentuk dari besar ke kecil atau kecil ke besar. Dalam nilai warna, di mana sebuah skema warna mengandung corak yang beragam dari yang sangat terang (mungkin pada langit-langit) hinggan medium (pada dinding) hingga gelap (pada lantai).

3. Transisi

Transisi merupakan ritme yang memimpin mata tanpa interupsi dari satu poin ke poin lainnya. Batas stensil atau wallpaper, grafis lukis, atau karpet panjang merupakan metode untuk membuat tampilan yang tidak mengganggu secara visual.

4. Oposisi atau kontras

Ini dapat dilihat dalam tiga cara. Pertama, dapat dilihat sebagai sudut 90 derajat yang repetitif—seperti sudut dari furnitur bersudut atau karya seni berbingkai. Kedua, oposisi atau kontras dapat dilihat dalam motif: kombinasi kain terbuka dan tertutup, ramai dan polos, terang dan gelap, permadani, atau tekstil lainnya atau pelapis dinding. Ketiga, bentuk dapat diletakkan sebagai kontras pada ritme yang menyenangkan.

5. Radiasi

Ritme didapatkan dengan cara memancarkan konsentris atau  jari-jari seperti garis atau bentuk bisa menjadi dramatis dan impresif.

Penekanan

  • Penekanan adalah pembuatan sebuah titik fokus—sebuah area yang cukup penting secara visual untuk menarik dan menahan perhatian.
  • Mengatur bentuk furnitur untuk menghadap titik fokus, mengarahkan garis menuju titik fokus, mengelompokkan objek untuk memberikan berat visual ke arah titik pusat, atau menggunakan warna yang lebih dramatis pada area titik pusat ada cara untuk meningkatkan penekanan.

Harmoni: Keragaman dan Kesatuan

  • Harmoni adalah kombinasi dari elemen desain, arsitektur, dan perabot ke dalam keseluruhan yang menyenangkan atau teratur—sebuah pernyataan kesepakatan atau perasaan benar.
  • Kesatuan

Kesatuan adalah target yang dicari dan, semoga, dicapai ketika semua elemen yang beragam dan perabot dijadikan satu. Kesatuan dapat dicapai dengan menjadi konsisten.

  • Variasi adalah tentang keberagaman.

 

Elemen Desain

Elemen-elemen desain adalah:

1. Ruang

Memperlakukan ruang dalam ukuran yang berbeda menuju pada dua kebutuhan dasar manusia. Pertama adalah kebutuhan untuk dilindungi, tertutup, dan dibuat nyaman. Ruang yang luas memenuhi kebutuhan dasar manusia yang kedua sebagai hasil dari kungkungan ruang yang sempit.

2. Rupa atau Bentuk

Kunci untuk memilih bentuk adalah menyeimbangkan mereka terhadap proporsi dan skala dari arsitektur untuk efek psikologi yang ingin didapatkan atau perasaan dan untuk memilih setiap bentuk untuk melengkapi bentuk lain yang ada di dekatnya.

3. Massa

Massa adalah kepadatan aktual ketika material diisi, seperti balok kayu yang solid. Massa juga bisa kepadatan optikal di mana material bisa jadi tidak solid. Arsitek menggunakan alat pengukur massa untuk membuat penekanan atau menarik perhatian.

4. Garis

Garis digunakan oleh desainer interior untuk membuat efek seperti penambahan tinggi, lebar, atau kesan gerakan.

5. Tekstur

Merupakan permukaan pada setiap elemen dan komponen dari desain interior. Sebagai kelembutan atau kekasaran yang relatif dari sebuah permukaan, tekstur ditentukan dalam dua cara: dengan menyentuh tekstur sesungguhnya dan dengan melihat permukaan secara visual (dengan menggunakan mata).

6. Motif

Motif yang terlalu kecil untuk dibedakan bisa dilihat sebagai tekstur.

7. Pencahayaan

Pencahayaan dalam desain interior memiliki dua sumber: cahaya natural dan cahaya artifisial. Cahaya natural adalah elemen desain yang diinginkan dan diapresiasi. Kualitas, kuantitas, dan warna dari cahaya mempengaruhi cara kita melihat sekeliling, dan dengan demikian, membutuhkan arahan, kontrol dan mungkin sumber cahaya pelengkap. Cahaya artifisial secara umum terdiri dari lampu pijar (bohlam biasa dengan elemen tungsten yang bersinar untuk menghasilkan panas) dan lampu neon (lampu bercahaya). Area yang diterangi dengan cahaya yang cerah dan terang akan terlihat lebih luas, sedangkan cahaya yang redup dan berbayang di dinding akan terlihat tertutup di dalam ruangan.

8. Warna

Warna terang dan gelap (high contrast) bisa menjadi dramatis, sementara warna yang dekat dengan value (low contrast) menciptakan lingkungan yang menyatu dan menenangkan. Warna terang, tegas, dan asli menunjukan kegembiraan.

Share Post
Written by
No comments

LEAVE A COMMENT