Welcome To Our Magazine Website
 

4 Desainer Interior Internasional Legendaris

Tak terhitung sudah jumlah desainer interior internasional terdahulu yang menginspirasi generasi muda desainer interior saat ini.

Bukanlah profesi yang remeh, memilih desainer interior sebagai jalan hidup ternyata sudah dilakukan oleh sejumlah orang di dunia sejak bertahun-tahun yang lalu. Desainer interior memiliki peran yang besar dalam perkembangan dunia desain dan arsitektur. Dari sekian banyak nama desainer interior, ada 4 nama yang masih terus diingat karyanya sampai saat ini. Berikut ini adalah keempat desainer internasional legendaris tersebut.

Elsie de Wolfe

Elsie de Wolfe yang dikenal sebagai dekorator Amerika yang pertama hidup dalam kemewahan, sebagaimana dekorasi yang diciptakannya. Ia lahir di New York pada tahun 1865 dan menempuh pendidikan di Skotlandia. De Wolfe yang sempat berkarir sebagai seorang aktris ini mampu menarik perhatian banyak orang melalui keberhasilannya mengubah desain interior rumah di Irving Place, tempat tinggalnya bersama Marbury, teman wanitanya. Ia berusaha menyingkirkan dekorasi Victorian yang terlalu penuh dengan mengurangi dan menyederhanakan interior yang terlalu ramai. Hal tersebut membuatnya diminta untuk mendekorasi Colony Club, kota tempat kelompok elit sosial eksklusif khusus untuk wanita. De Wolfe berhasil menjadi dekorator paling populer pada masanya dengan motif serigala dan seikat bunga, yang menjadi ciri khas yang tertera pada kartu namanya.

Dorothy Draper

Draper beranggapan bahwa mendekorasi sebuah ruangan merupakan hal yang menyenangkan karena penuh warna, ketelitian akan keseimbangan, rasa untuk pencahayaan serta gaya, semangat kehidupan, dan kebahagiaan. Di tahun 1925, Draper membuka sebuah bisnis yang dianggap bisnis desain interior resmi pertama, bernama Architectural Clearing House. Dengan anggapannya tadi, Draper hadir dengan ciri khas sentuhan desain yang penuh warna berani, elegan, ceria, dan hidup seperti terlihat pada gambar utama di atas.

Ia mengaplikasikan gaya modern Baroque yang elegan pada berbagai bangunan publik, termasuk sebuah kafetaria di New York’s Metropolitan Museum of Art, Hotel Fairmont dan Hotel Mark Hopkins di San Fransisco, dan yang paling terkenal adalah perombakan total pada Greenbrier di West Virginia. Ada konsep ruangan yang menggunakan warna klasik hitam dan putih, juga ada yang menggunakan campuran warna pink dengan hijau, turquoise, dan orange.

Billy Baldwin

desainer-interior-internasional

source: pinterest.com

Baldwin lebih suka disebut sebagai ‘dekorator’ ketimbang ‘desainer interior,’ istilah yang dibencinya. Padahal, apa yang ia lakukan lebih tepat dikatakan sebagai seorang desainer interior. Kenyamanan dan kualitas merupakan prinsip utama Baldwin. Walaupun begitu, ia lebih mengutamakan rangka bangunan ruangan yang bagus sebagai prioritasnya yang paling utama. Ia percaya bahwa arsitektur lebih penting daripada dekorasi karena skala dan proporsi mampu memberikan kepuasan yang lebih lama, yang tidak akan didapatkan hanya dengan dekorasi ruangan saja.

Di saat dekorator kenamaan lain pada masanya memilih untuk memulai sebuah proyek dari nol, Baldwin memilih untuk bekerja dengan barang-barang yang sudah dimiliki oleh klien.

Beberapa proyek yang pernah dikerjakan Baldwin adalah interior apartemen Waldorf Towers milik Cole Porter dan kediaman Jackie O di Pulau Skorpios Yunani. Furnitur yang dilapisi kain hingga menyentuh lantai, warna dinding yang gelap, dan rak buku built-in merupakan desain Baldwin yang masih banyak digunakan hingga hari ini. Bukunya yang berjudul Billy Baldwin Decorates, terbitan tahun 1972, masih dianggap sebagai buku yang wajib dibaca untuk nasihat dekorasi yang praktis.

Jean-Michel Frank

Di tahun 1930an, Jean-Michel Frank merupakan dekorator dan desainer yang paling dikenal ketika itu, dengan lingkup pergaulannya yang luas mencakup berbagai kalangan, mulai dari seniman hingga sosialita. Ciri khas proyek yang ia kerjakan adalah penempatan lukisan Picasso dan Braque di dinding ruangan. Namun, Frank memiliki gaya yang sulit untuk dideskripsikan. Ia dikenal sebagai seorang minimalis, namun ia pun tampil dengan lapisan maximalism yang membuat karyanya menjadi sangat menarik dan kompleks. Dalam mendesain furnitur, ia akan mempertahankan bentuk utama furnitur tersebut, tapi sering pula ditambahkan hiasan yang mewah seperti lapisan mika dengan bunga-bunga, pintu berwarna perunggu, lampu dari batu kuarsa, dan club chair berbentuk kubus dari kulit domba yang dibuatnya untuk Hermés.

Frank menyukai warna putih yang menurutnya terlihat lapang dan kaya. Ia terkenal dengan desain furnitur minimalis yang paling ikonik, meja Parsons. Di samping ketajaman matanya terhadap desain dan kualitas, Frank menemukan elemen-elemen kehidupan sehari-hari untuk ruang apapun dan mempercayai bahwa ‘selera yang tepat’ merupakan sebuah resep untuk ruangan yang terlalu kosong.

Sayangnya, ia meninggal karena bunuh diri, terjun dari sebuah bangunan di Manhattan pada tahun 1941 di usianya yang baru menginjak 46 tahun. Meskipun begitu, karyanya masih disimpan di beberapa museum saat ini dan beberapa reproduksi furnitur karyanya yang didesain untuk Hermés masih bisa didapatkan.

Tidak hanya memiliki karya langsung dalam dunia desain dan dekorasi interior, namun ternyata keempat tokoh legendaris di atas juga memiliki andil dalam desain furnitur yang masih dikenal sampai sekarang.

Image source: thedesignsoc.com

Artikel yang berhubungan:

Share Post
Written by
No comments

LEAVE A COMMENT